Langsung ke konten utama

Menjadi baik itu baik

 Rabu, 14 Februari 2018

Alhamdulillah.. Saya masih diberikan kesempatan untuk menulis di blog ini lagi. Rindu sebenernya untuk menulis... Tapi tidak dipungkiri saya sudah lupa bagaimana rasanya menulis.

Singkat kata, saya ingin berbagi pengalaman saya berhijrah. Hijrah, satu kata penuh makna. Penuh perjuangan. Kalau kata dilan, rindu itu berat. Gak dilan. Yang berat itu hijrah. Bagaimana kita harus istiqamah dalam berhijrah tersebut. Saya akui, saya ini penuh dosa. Pernah melewati masa-masa jahiliyah. Bila ingin memutar waktu, saya menyesali itu. Kenapa tidak dari awal saya menjadi lebih baik?

Tapi... Saya percaya, Allah swt. Maha membolak balikan hati manusia. Sebagai makhluk-Nya kita harus terus berkhusnuzon terhadap-Nya. Saya merasakan pernah terjebak di lumpur yang kotor, jadi saya diberi kesempatan untuk membersihkannya. Semoga saya bisa terus istiqamah... Aamiin..

Sedikit ingin bercerita pengalaman, kenapa saya bisa memantapkan diri berhijrah. Sebetulnya, keinginan untuk berhijrah sudah ada sejak lama, yakni sejak pertengahan 2016. Namun, saya belum tau pasti bagaimana cara berhijrah? Masih terus bergumul dengan hal hal yang mudhorot, memuja oppa oppa korea sana.
Kemudian, ketika pergantian tahun 2018 saya memantapkan diri untuk berubah. Bukan menjadi superman kok! Tapi berubah menjadi wanita yg lebih baik. Ingin menjadi wanita sholeha. Namun, lagi-lagi saya bimbang. Bagaimana caranya? Suatu malam, saya menangis ketika membaca surah Al- Mulk. Saya teringat semua dosa-dosa saya. Saya takut, bila saya meninggal dalam keadaan belum bertaubat.. 

Alhamdulilah, saya memiliki sahabat-sahabat yang sangat sangat mendukung saya untuk menjadi lebih baik. Tidak akan saya sebutkan namanya disini, namun, saya sangat beruntung dipertemukan oleh mereka. Mereka membimbing, menasihati apa yang harus saya perbaiki, tanpa menghakimi masalalu saya. Jujur sangat berat untuk melepaskannya, karena tahu sendiri menjadi fangirl korea itu sungguh menguras waktu. Belum lihat update-an korea, iman langsung turun melihat tampannya idol kesayangan. Tapi sahabatku tidak kenal menyerah menasihati. Kenapa harus mengidolakan kaum yang bahkan tidak memiliki tuhan sedangkan kita sebagai muslim memiliki sosok yang jauh lebih baik dari idola kita tersebut? 

Masya Allah, badan saya bergetar hebat dan memangis selagi mendengarnya. Menyesal, menghabiskan waktu saya sekian lama untuk memuja mereka padahal, bisa dilakukan dengan hal hal yang lebih baik. Menghapal alquran misalnya. Tapi tidak ada yang perlu disesali, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Saya mulai memperbaiki solat, melaksanakan sunah, memperbaiki cara berpakaian saya, membaca buku-buku tentang pengalaman berhijrah dan membaca buku tentang cerita-cerita nabi dimasa lalu dan itu semakin menimbulkan kecintaan dan kerinduan saya terhadap rasulullah saw.

Saya masih jauh dari kata baik. Masih harus terus belajar, terus memperbaiki diri. Kelak jika saya sudah baik, saya akan tersenyum ketika membaca kembali tulisan ini. Untuk sahabat saya, terus berjuang bersama saya, jangan lelah jika saya banyak bertanya, karna saya masih kurang ilmu. Masih harus terus belajar. Sekali lagi doakan semoga saya istiqamah. Aamiin.

Komentar